Sabtu, 21 Februari 2009

JANTUNG BERDEBAR DISERTAI KEPANASAN DAN SULIT TIDUR HORMON

JANTUNG BERDEBAR DISERTAI KEPANASAN DAN SULIT TIDUR
HORMON
Hormon adalah zat kimia yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin atau kelenjar buntu. Kelenjar ini merupakan kelenjar yang tidak mempunyai saluran sehingga sekresinya akan masuk aliran darah dan mengikuti peredaran darah ke seluruh tubuh. Apabila sampai pada suatu organ target, maka hormon akan merangsang terjadinya perubahan. Pada umumnya pengaruh hormon berbeda dengan saraf. Perubahan yang dikontrol oleh hormon biasanya merupakan perubahan yang memerlukan waktu panjang. Contohnya pertumbuhan dan pemasakan seksual.
I. ORGAN-ORGAN YANG MENGHASILKAN HORMON
1. Hipofisis
Hipofisis, organ kecil yang menjuntai di bawah dasar otak, adalah sebuah kelenjar yang banyak berperan dalam aktivitas berbagai hormon. Kelenjar yang hanya berbobot 0,5 gr ini terlindung dalam ruang yang dikenal sebagai sella tursika atau fossa hipofisis di dasar tengkorak. Hipofisis terdiri atas 2 lobus, anterior dan posterior dan secara anatomis berhubungan langsung dengan hipotalamus. Hipotalamus sendiri terbagi atas 3 zona yaitu lateral, medial dan paraventrikuler. Magnocellular neurosecretory cells, salah satu kelompok sel pada zona paraventrikuler hipotalamus, memiliki axon yang berjalan turun ke hipofisis lobus posterior.
Magnocellular neurosecretory cells, melepaskan 2 macam neurohormon, oksitosin dan vasopresin ke dalam sirkulasi. Oksitosin dilepaskan saat proses persalinan dan menyebabkan uterus berkontraksi. Hormon ini juga menstimulasi keluarnya air susu dari kelenjar mammae. Oksitosin juga dapat dilepaskan dengan sensasi somatik yang diakibatkan oleh hisapan bayi saat sedang disusui. Vasopresin, juga disebut dengan antidiuretic hormone (ADH) berperan dalam regulasi cairan dan osmolaritas. Dalam keadaan dehidrasi di mana volume darah menurun dan osmolaritas meningkat, vasopresin akan dilepaskan dan akan memerintahkan ginjal untuk meretensi cairan dan mengurangi produksi urin.
Tidak seperti lobus posterior, lobus anterior hipofisis adalah kelenjar yang menghasilkan bermacam-macam hormon yang bertugas meregulasi sekresi hormon-hormon kelenjar lain. Kelenjar-kelenjar berikut ini bekerja di bawah pengaruh hipofisis: gonad, adrenal, tiroid dan mammae. Sedemikian luasnya peran hipofisis membuat kelenjar ini mendapat julukan “Master of Gland”. Meskipun demikian, hipofisis anterior tetap di bawah kontrol hipotalamus yang diperankan oleh parvocellular neurosecretory cells di zona paraventrikuler.
Berikut ini adalah hormon yang dihasilkan oleh hipofisi lobus anterior dan efek yang ditimbulkannya.

Hormon Target Efek
Follicle-stimulating hormone (FSH) Gonad Ovulasi, spermatogenesis
Luteinizing hormone (LH) Gonad Ovulasi, maturasi sperma
Thyroid-stimulating hormone (TSH) atau thyrotropin Tiroid Sekresi tiroksin (meningkatkan metabolisme)
Adrenocoticotropic hormone (ACTH) atau corticotropin Korteks adrenal Sekresi kortisol
Growth hormone (GH) Semua sel Stimulasi sintesa protein
Prolaktin Mammae Produksi dan sekresi air susu

Hipotalamus berkomunikasi dengan lobus anterior hipofisis melalui hormon yang dilepaskan ke pembuluh darah kecil yang berjalan turun ke hipofisis anterior melalui tangkai hipofisis. Hubungan yang demikian ini dikenal sebagai hypothalamo-pituitary portal circulation. Hormon yang dilepaskan adalah sebagai berikut:

Thyrotropin releasing hormone (TRH) = TSH-RH
Corticotropin releasing hormone (CRH)
Gonadotropin releasing hormone (GnRH) = LH-RH
Growth hormone releasing hormone (GH-RH)
Growth hormone release inhibiting hormone (GH-RIH) = somatostatin
Prolactin releasing factor (PRF)
Prolactin release inhibiting factor (PIF)
Melanocyte stimulating hormone releasing factor (MSH-RF)
Melanocyte stimulating hormone release inhibiting factor (MSH-RIF)

Hormon-hormon tersebut dikenal sebagai hypophysiotropic hormone. Apabila hormon hormon ini dilepaskan akan terjadi perubahan besar baik dalam fisiologi tubuh maupun otak manusia. Sebagai contoh, dalam kondisi stress psikis, periventrikuler hipotalamus akan melepaskan CRH ke hypothalamo-pituitary portal circulation yang akan memicu dikeluarkannya ACTH ke sirkulasi. ACTH akan menstimulasi keluarnya kortisol dari kelenjar adrenal. Kortisol akan menimbulkan banyak efek seperti inhibisi sistem imun, mempengaruhi metabolisme karbohidrat, lemak, protein, sistem kardiovaskuler dan lain sebagainya. Kortisol yang bersifat lipofilik ini dapat melewati sawar darah otak. Di otak hormon ini akan berikatan dengan reseptor yang mengirimkan sinyal ke hipotalamus untuk menghentikan pelepasan CRH sehingga kadar kortisol dalam darah tidak terus meningkat. (red/estiasari)


Anatomi Hipofisis
Terletak di os sphenoid, dorsal terhadap rongga hidung dan mata. Terdiri atas lobus anterior dan posterior. Lobus anterior disebut juga adenohypophysis. Kelenjar ini mempengaruhi kelenjar-kelenjar lain (headnucleus). Lobus posterior disebut juga neurohypophysis.

Histologi Hipofisis
Disebut juga sebagai kelenjar Masterglands. Bentuk ovoid, 1 x 1.5 x 0.5 cm. Letak dalam Sela Tursika. Vaskularisasi : Arteri Hipofisialis inferior, Arteri Hipofisialis Superior. Inervasi oleh Tractus Hipotalamus Hipofisealis.
Dengan Pewarnaan H.E Pada hipofisis pars anterior terdapat:
• Sel α (asidofil): bergranula merah. Sel ini paling banyak di hipofisis pars anterior. Dengan pewarnaan M.A. dapat dibedakan:
- Sel Orangeofil atau Sel Alfa Asidofil
- Sel Karminofil atau Sel Epsilon Asidofil

• Sel β (basofil): bergranula berwarna kebiru-biruan. Sel ini berada di antara sel α.
• Sel kromofob: tidak berwarna/jernih, karena tidak mempuyai granula.
2. Kelenjar tiroid
Kelenjar tiroid ialah organ endokrin yang terletak di leher manusia. Fungsinya ialah mengeluarkan hormon tiroid. Antara hormon yang terpenting ialah Thyroxine (T4) dan Triiodothyronine (T3). Hormon-hormon ini mengawal metabolisma (pengeluaran tenaga) manusia.
Anatomi dan struktur
Kelenjar tiroid terdiri dari dua lobus, satu di sebelah kanan dan satu lagi disebelah kiri. Keduanya dihubungkan oleh suatu struktur ( yang dinamakan isthmus atau ismus. Setiap lobus berbentuk seperti buah pir. Kelenjar tiroid mempunyai satu lapisan kapsul yang tipis dan pretracheal fascia. Pada keadaan tertentu kelenjar tiroid aksesoria dapat ditemui di sepanjang jalur perkembangan embriologi tiroid. Struktur ismus atau isthmus yang dalam bahasa latin artinya penyempitan merupakan struktur yang menghubungkan lobus kiri dan kanan. Posisinya kira-kira setinggi cincin trakea 2-3 dan berukuran sekitar 1,25 cm. Anastomosis di antara kedua arteri thyroidea superior terjadi di sisi atas ismus, sedangkan cabang-cabang vena thyroidea inferior ber-anastomosis di bawahnya. Pada sebagian orang dapat ditemui lobus tambahan berupa lobus piramidal yang menjulur dari ismus kebawah.
• Vaskularisasi
Darah ke kelenjar tiroid dibekalkan oleh arteri superior thyroid yang merupakan cabang pertama arteri external carotid(ECA). Arteri ini menembusi pretracheal fascia sebelum sampai ke bahagian superior pole lobe kelenjar tiroid. Saraf laryngeal terletak berhampiran(di belakang) arteri ini, jadi jika dalam pembedahan tiroidektomi, kemungkinan besar saraf ini terpotong jika tidak berhati-hati.
Kelenjar tiroid juga dibekalkan oleh arteri inferior thyroid yang merupakan cabang daripada thyrocervical trunk(cabang daripada arteri subclavian). Dalam 3% populasi manusia, terdapat satu lagi arteri ke kelenjar tiroid, iaitu arteri thyroid ima.
Histologi kelenjar tiroid
Terdiri dari pseudolobuli. Pseudolobulus terdiri dari folikel-folikel yang dibatasi oleh sel folikel. Didalam lumennya berisi koloid. Sel-sel folikel umumnya berbentuk ubis. Sel Parafolikuler (sel follikular yang lebih besar dan tampak lebih pucat) terletak diantara sel follikular dengan membrana basalis, menghasilkan hormon calcitonin.
Fisiologi
Sel tiroid adalah satu-satunya sel dalam tubuh manusia yang dapat menyerap iodin atau yodium yang diambil melalui pencernaan makanan. Iodin ini akan bergabung dengan asam amino tirosin yang kemudian akan diubah menjadi T3 (triiodotironin) dan T4 (triiodotiroksin). Dalam keadaan normal pengeluaran T4 sekitar 80% dan T3 15%. Sedangkan yang 5% adalah hormon-hormon lain seperti T2.
T3 dan T4 membantu sel mengubah oksigen dan kalori menjadi tenaga (ATP = adenosin tri fosfat). T3 bersifat lebih aktif daripada T4. T4 yang tidak aktif itu diubah menjadi T3 oleh enzim 5-deiodinase yang ada di dalam hati dan ginjal. Proses ini juga berlaku di organ-organ lain seperti hipotalamus yang berada di otak tengah.
Hormon-hormon lain yang berkaitan dengan fungsi tiroid ialah TRH (tiroid releasing hormon)dan TSH (tiroid stimulating hormon). Hormon-hormon ini membentuk satu sistem aksis otak (hipotalamus dan pituitari)- kelenjar tiroid. TRH dikeluarkan oleh hipotalamus yang kemudian merangsang kelenjar pituitari mengeluarkan TSH. TSH yang dihasilkan akan merangasang tiroid untuk mengeluarkan T3 dan T4. Oleh karena itu hal yang mengganggu jalur diats akan mentyebabkan produksi T3 dan T4
3. Paratiroid
Kelenjar paratiroid menempel pada bagian anterior dan posterior kedua lobus kelenjar tiroid oleh karenanya kelenjar paratiroid berjumlah empat buah. Kelenjar ini terdiri dari dua jenis sel yaitu chief cells dan oxyphill cells. Chief cells merupakan bagian terbesar dari kelenjar paratiroid, mensintesa dan mensekresi hormon paratiroid atau parathormon disingkat PTH.
Parathormon mengatur metabolisme kalsium dan posfat tubuh. Organ targetnya adalah tulang, ginjal dan usus kecil (duodenum). Terhadap tulang, PTH mempertahankan resorpsi tulang sehingga kalsium serum :neningkat. Di tubulus ginjal, PTH mengaktifkan vitamin D. Dengan vitamin D yang aktif akan terjadi peningkatan absorpsi kalsium dan posfat dari intestin. Selain itu hormon inipun akan meningkatkan reabsorpsi Ca dan Mg di tubulus ginjal, meningkatkan pengeluaran Posfat, HCO3 dan Na. karena sebagian besar kalsium disimpan di tulang maka efek PTH lebih besar terhadap tulang. Factor yang mengontrol sekresi PTH adalah kadar kalsium serum di samping tentunya PTSH

4. Struktur dan fungsi kelenjar Pankreas
Pankreas terletak di retroperiotoneal rongga abdomen bagian atas, dan terbentang horizontal dari cincin duodenal ke lien. Panjang sekitar 10-20 cm dan lebar 2,5-5 cm. mendapat pasokan darah dari arteri mensenterika superior dan splenikus.
Pankrea berfungsi sebagai organ endokrin dan eksokrin. Fungsinya sebagai organ endokrin didukung oleh pulau-pulau Langerhans. Pulau-pulau Langerhans terdiri tiga jenis sel yaitu; sel alpha yang menghasilkan yang menghasilkan glukoagon, sel beta yang menghasilkan insulin, dan sel deltha yang menghasilkan somatostatin namun fungsinya belum jelas diketahui.
Organ sasaran kedua hormon ini adalah hepar, otot dan jaringan lemak. Glukagon dan insulin memegang peranan penting dalam metabolisme karbohidrat, protein dan lemak. Bahkan keseimbangan kadar gula darah sangat ,dipengaruhi oleh kedua hormon ini. Fungsi kedua hormon ini saling bertolak belakang. Kalau secara umum, insulin menurunkan kadar gula darah sebaliknya untuk glukagon meningkatkan kadar gula darah. Perangsangan glukagon bila kadar gula darah rendah, dan asam amino darah meningkat. Efek glukoagon ini juga sama dengan efek kortisol, GH dan epinefrin.Dalam meningkatkan kadar gula darah, glukagon merangsang glikogenolisis (pemecahan glikogen menjadi glukosa) dan meningkatkan transportasi asam amino dari otot serta meningkatkan glukoneogenesis (pemecahan glukosa dari yang bukan karbohidrat). Dalam metabolisme lemak, glukagon meningkatkan lipolisis (pemecahan lemak).Dalam menurunkan kadar gula darah, insulin sebagai hormon anabolik terutama akan meningkatkan difusi glukosa melalui membran sel di jaringan. Efek anabolik penting lainnya dari hormon insulin adalah sebagai berikut:a. Efek pada hepar1) Meningkatkan sintesa dan penyimpanan glukosa2) Menghambat glikogenolisis, glukoneogenesis dan ketogenesis3) Meningkatkan sintesa trigliserida dari asam lemak bebas di heparb. Efek pada otot1) Meningkatkan sintesis protein2) Meningkatkan transportasi asam amino3) Meningkatkan glikogenesisc.
Efek pada jaringan lemak:
1) Meningkatkan sintesa trigliserida dari asam lemak bebas
2) Meningkatkan penyimpanan trigliserida
3) Menurunkan lipolisis
5. Struktur dan Fungsi Kelenjar Adrenal

Terletak di kutub atas kedua ginjal. Disebut juga sebagai kelenjar suprarenalis karena letaknya di atas ginjal. Dan kadang juga disebut sebagai kelenjar anak ginjal karena menempel pada ginjal.
Kelenjar adrenal terdiri dari dua lapis yaitu bagian korteks dan bagian medulla. Keduanya menunjang dalam ketahanan hidup dan kesejahteraan, namun hanya korteks yang esensial untuk kehidupan.
a. Korteks adrenal.
Korteks adrenal esensial untuk bertahan hidup. Kehilangan hormon adrenokortikal dapat menyebabkan kematian. Korteks adrenal mensintesa tiga kelas hormon steroid yaitu mineralokortikoid, glukokortikoid, dan androgen.
b. Mineralokortikoid
Mineralokortikoid (pada manusia terutama adalah aldosteron) dibentuk pada zona glomerulosa korteks adrenal. Hormon ini mengatur keseimbangan elektrolit dengan meningkatkan retensi natrium dan ekskresi kalium. Aktivitas fisiologik ini selanjutnya membantu dalam mempertahankan tekanan darah normal dan curah jantung. Defisiensi mineralokortikoid (penyakit Addison’s) mengarah pada hipotensi, hiperkalemia, penurunan curah jantung, dan dalam kasus akut, syok. Kelebihan mineralokortikoid mengakibatkan hipertensi dan hipokalemia.

c. Glukokortikoid
Glukokortikoid dibentuk dalam zona fasikulata. Kortisol merupakan glukokortikoid utama pada manusia. Kortisol mempunyai efek pada tubuh antara lain dalam: metabolisms glukosa (glukosaneogenesis) yang meningkatkan kadar glukosa darah; metabolisme protein; keseimbangan cairan dan elektrolit; inflamasi dan imunitas; dan terhadap stresor.d. Hormon seks Korteks adrenal mensekresi sejumlah kecil steroid seks dari zona retikularis. Umumnya adrenal mensekresi sedikit androgen dan estrogen dibandingkan dengan sejumlah besar hormon seks yang disekresi oleh gonad. Namun produksi hormon seks oleh kelenjar adrenal dapat menimbulkan gejala klinis. Misalnya, kelebihan pelepasan androgen menyebabkan virilisme. sementara kelebihan pelepasan estrogen (mis., akibat karsinoma adrenal menyebabkan ginekomastia dan retensi natrium dan air.


6. Struktur dan Fungsi Kelenjar Gonad
Terbentuk pada minggu-minggu pertama gestasi dan tampak jelas pada minggu kelima. Difrensiasi jelas dengan mengukur kadar testosteron fetal terlihat jelas pada minggu ke tujuh dan ke delapan gestasi. Keaktifan kelenjar gonad terjadi pada masa prepubertas dengan meningkatnya sekresi gonadotropin (FSH dan LH) akibat penurunan inhibisi steroid.

a. Testes
Dua buah testes ada dalam skrotum. Testis mempunyai dua fungsi yaitu sebagai organ endokrin dan organ reproduksi. Menghasilkan hormone testosteron dan estradiol dibawah pengaruh LH. Testosteron diperlukan untuk mempertahankan spermatogenesis sementara FSH diperlukan untuk memulai dan mempertahankan spermatogenesis.Estrogen mempunyai efek menurunkan konsentrasi testosteron melalaui umpan balik negatif terhadap FSH sementara kadar testosteron dan estradiol menjadi umpan balik negatif terhadap LH. Fungsi testis sebagai organ reproduksi berlangsung di tubulus seminiferus.Efek testosteron pada fetus merangsang diferensiasi dan perkembangan genital ke arah pria. Pada masa pubertas hormon ini akan merangsang perkembangan tanda-tanda seks sekunder seperti perkembangan bentuk tubuh, pertumbuhan dan perkembangan alat genital, distribusi rambut tubuh, pembesaran laring dan penebalan pita suara serta perkembangan sifat agresif. Sebagai hormon anabolik, akan merangsang pertumbuhan dan penutupan epifise tulang.


b. Ovarium
Seperti halnya testes, ovarium juga berfungsi sebagai organ endokrin dan organ reproduksi. Sebagai organ endokrin, ovarium menghasilkan hormon estrogen dan progesteron. Sebagai organ reproduksi, ovarium menghasilkan ovum (sel telur) setiap bulannya pada masa ovulasi untuk selanjutnya siap untuk dibuahi sperma. Estrogen dan progesteron akan mempengaruhi perkembangan seks sekunder, menyiapkan endometrium untuk menerima hasil konsepsi serta mempertahankan proses laktasi.
Estrogen dibentuk di sel-sel granulosa folikel dan sel lutein korpus luteum. Progesteron juga dibentuk di sel lutein korpus luteum.
II. MEKANISME HORMONAL
Organisme multiseluler memerlukan mekanisme untuk komunikasi antar sel agar dapat memberi respon dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan eksterna dan interna yang selalu berubah.
Sistem Endokrin dan susunan saraf merupakan alat utama dimana tubuh mengkomunikasikan antara berbagai jaringan dan sel. Sistem saraf sering dipandang sebagai pembawa pesan melalui system structural yang tetap. System endokrin di mana berbagai macam hormone diekskresikan oleh kelenjar spesifik, diangkut sebagai pesan yang bergerak untuk bereaksi pada sel atau organ targetnya.
SEKRESI HORMONAL
Hormon merupakan mediator kimia yang mengatur aktivitas sel / organ tertentu. Dahulu sekresi hormonal dikenal dengan cara dimana hormon disintesis dalam suatu jaringan diangkut oleh sistem sirkulasi untuk bekerja pada organ lain disebut sebagai fungsi Endokrin
Ini bisa dilihat dari sekresi hormon Insulin oleh pulau β Langerhans Pankreas yang akan dibawa melalui sirkulasi darah ke organ targetnya sel-sel hepar.
Sekarang diakui hormon dapat bertindak setempat di sekitar mana mereka dilepaskan tanpa melalui sirkulasi dalam plasma di sebut sebagai fungsi Parakrin, digambarkan oleh kerja Steroid seks dalam ovarium, Angiotensin II dalam ginjal, Insulin pada sel α pulau Langerhans.Hormon juga dapat bekerja pada sel dimana dia disintesa disebut sebagai fungsi Autokrin. Secara khusus kerja autokrin pada sel kanker yang mensintesis berbagai produk onkogen yang bertindak dalam sel yang sama untuk merangsang pembelahan sel dan meningkatkan pertumbuhan kanker secara keseluruhan.
RESEPTOR HORMON
Konsentasi hormon dalam cairan ekstrasel sangat rendah berkisar 10-15 –10-9. Sel target harus membedakan antara berbagai hormon dengan konsentrasi yang kecil, juga antar hormon dengan molekul lain.Derjad pembeda dilakukan oleh molekul pengenal yangterikat pada sel target disebut Reseptor
→Reseptor Hormon: Molekul pengenal spesifik dari sel tempat hormon berikatan sebelum memulai efek biologiknya.
Umumnya pengikatan Hormon Reseptor ini bersifat reversibel dan nonkovalen
Reseptor hormon bisa terdapat pada permukaan sel (membran plasma) atau pun
intraselluler.
Interaksi hormon dengan reseptor permukaan sel akan memberikan sinyal pembentukan senyawa yang disebut sebagai second messenger (hormon sendiri dianggap sebagai first messenger)
Jika hormon sudah berinteraksi dengan reseptor spesifiknya pada sel-sel target, maka peristiwa-peristiwa komunikasi intraseluler dimulai.Hal ini dapat melibatkan reaksi modifikasi seperti fosforilasi dan dapat mempunyai pengaruh pada ekspresi gen dan kadar ion. Peristiwa-peristiwa ini hanya memerlukan dilepaskannya zat-zat pengatur.
Hormon merupakan mediator kimia yang mengatur aktivitas sel / organ tertentu. Sekresi hormon dikenal secara Endokrin, Parakrin dan Autokrin.
Hormon sebelum memulai efek biologiknya harus berikatan dengan reseptor pengenal Spesifiknya. Reseptor hormon bisa terdapat pada permukaan sel (membran plasma) atau pun intraselluler. Interaksi hormon dengan reseptor permukaan sel akan memberikan sinyal pembentukan senyawa yang disebut sebagai second messenger . Yang merupakan kelompok second messenger adalah senyawa cAMP,cGMP,Ca2+,Fosfoinositol, Lintasan Kinase
KKeelloommppookk hhoorrmmoonn mmeemmppuunnyyaaii rreesseeppttoorr iinnttrraasseell bersifat lipofilik dan dapat berdifusi lewat membran plasma semua sel, tetapi hanya menjumpai reseptor spesifiknya di dalam sel sasaran Dengan memberi pengaruh yang selektif pada transkripsi gen dan produksi masing-masing mRNA ,kelompok hormon ini mempengaruhi pembentukan protein spesifik dan proses metabolik dipengaruhi
Tidak semua hormon dihasilkan oleh suatu kelenjar tertentu.Hormon golongan Eicosanoid mencakup: Prostanoid (Prostaglandin, Prostasiklin Tromboxan) dan Leukotrien adalah derivat asam lemak tak jenuh dengan kerangka 18,20 atau 22 karbon.
β endorphine terdiri atas 31 asam amino yang ditemukan dalam hipofise dapat berperan dalam mengontrol persepsi rasa nyeri secara endogen sehingga dapat berperan analgesik yang kuat untuk rasa sakit pada tubuh selama beberapa jam .Potensi analgesik senyawa 18-30 kali lebih kuat dari morphin
Onkogen merupakan gen yang mempromosikan kanker. Mengalami perubahan melalui mutasi ataupun versi dari gen seluler normal yang diekspresikan secara berlebihan.Dalam banyak kasus onkogen merupakan analog dari hormon maupun faktor pertumbuhan, reseptor hormon,molekul yang mentransmisikan kerja hormon.
III. PEMERIKSAAN
1. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik pada sistem endokrin mungkin dapat dilakukan hanya sebagian dari
keseluruhan pengkajian. atau mungkin sebagian sudah dapat diatasi sendiri oleh klien dengan
pengetahuan dan kecurigaan terhadap masalah fungsi endokrin.
Persiapan
Satu-satunya organ endokrin yang dapat dipalpasi adalah kelejar tiroid. Bagaimanapun
pengkajian lainnya dapat memperlihatkan informasi mengenai masalah endokrin termasuk
inspeksi pada kulit. rambut dan kuku. raut muka. refleks dan sistem muskuloskeletal.
Pengukuran tinggi dan berat badan sangat penting seperti tanda-tanda vital yang juga
memperlihatkan petunjuk terhadap ketidakmampuan fungsi sistem endokrin.
Klien mungkin duduk setelah melakukan latihan. Refleks hammer digunakan untuk tes
refleks tendon bagian dalam. Utamakan latihan, perawat mengumpulkan peralatan penting dan
menjelaskan teknik kepada. klien untuk mengurangi cemas. Penambahan teknik untuk mengkaji hipokalsemia, tetanus. Komplikasi terhadap kekacauan endokrin termasuk urutan latihan.
Teknik Pemeriksaan Kelainan Yang Mungkin Ditemukan Kulit
Kulit
Inspeksi warna kulit

Hiperpigmentasi ditemukan pada klien addison
desease atau cushing syndrom. Hipopigmentasi
terlihat pada klien diabetes mellitus,
hipertiroidisme, hipotiroidisme.
Palpasi (tekstur. kelembaban. dan
adanya lesi.
Kulit kasar. kering ditemukan pada klien dengan
hipotiroidisme. dimana kelembutan dan bilasan
kulit bisa menjadi tanda pada klien dengan
hipertiroidisme. Lesi pada ekstremitas bawah
mengindikasikan DM.

Kuku dan Rambut
Peningkatan pigmentasi pada kuku diperlihatkan
oleh klien dengan penyakit addison desease,
kering, . tebal. dan rapuh terdapat pada penyakit
hipotiroidisme, rambut lembuthipertyroidisme.
Hirsutisme terdapat pada penyakit cushing
syndrom
Muka (inspeksi bentuk dan kesimetrisan
wajah), inspeksi posisi mata
Variasi dan bentuk dan struktur muka mungkin
dapat diindikasikan dengan penyakit akromegali
mata.
Kelenjar Thyroid
Palpasi kelenjar tyroid terhadap ukuran
dan konsistensinya. Pemeriksa berdiri di
Tidak membesar pada klien dengan penyakit
graves atau goiter. Multiple nodulus terdapat pada
belakang klien dan tempatkan kedua
tangan anda pada sisi lain pada trachea di
bawah kartilago thyroid. Minta klien
untuk miringkan kepala ke kanan Minta
klien untuk menelan. Setelah klien
menelan. pindahkan pada sebelah kiri.
selama palpasi pada dada kiri bawah
metabolik. seperti yang ditunjukkan hanya pada
nodul yang bisa diindikasi bisul, tumor malignan
dan. benigna.
Fungsi Motorik
Mengkaji tendon dalam-tendon refleks
Refleks tendon dalam disesuaikan
dengan tahap perkembangan biceps,
brachioradialis,triceps, Patellar, achilles.
Peningkatan refleks dapat terlihat pada penvakit
hipcrtiroidisme penurunan refleks dapat terlihat
pada penvakit hipotiroidisnie
Fungsi sensorik
Mengkaji fungsi sensorik
Tes sensitivitas klien terhadap nyeri,
temperature, vibrasi, sentuhan, lembut.
Stereognosis. Bandingkan kesimetrisan
area pada kedua sisi dan tubuh. dan
bandingkan bagian distal dan proksimal
dan ekstremitas. minta klien untuk
menutup mata. Untuk mengetes nyeri
gunakan jarum yang tajam dan tumpul.
Untuk tes temperature. gunakan botol
yang berisi air hangat dan dingin. Untuk
mengetes rasa getar gunakan penala
garpu tala. Untuk mengetes stereognosis.
tempatkan objek (bola kapas, pembalut
karet) pada tangan klien. kemudian minta
klien mengidentifikasi objek tersebut.

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
 Urin: glukosa, albumin, benda keton dan sedimen. Serta pem mikroalbumin
 Darah: kadar gula darah, test toleransi glukosa oral, kurva harian glukosa, kadar HbA1c, kadar fruktosamin, kadar insulin, kadar c-peptide, status asam basa.
 Dasar penetapan kadar gula darah: reduksi (cupri-cupro), kondensasi (o-toluidin), enzimatik (glukosa oksidase, hexikinase, dehidrogenase)
 Pem enzimatik pem terbaik yang umum dipakai
















DAFTAR PUSTAKA
1. Netter F. Atlas of Human Anatomy. 4th Ed. Saunders 2006:74-75.
2. Bloom&Faucett. Buku ajar histologi, edisi ke-12, Jakarta: EGC. 2001.
3. Husin Elly, Dra, Rumiati Flora, Ssi, Mkes, Kusumahastuti,dr.MS,SpBk etc.
Sistem Uropoetika dan genetalia, blok 10. Jakarta: FK UKRIDA. 2008.
4. Markum H.M.S. Penuntun anamnesis dan pemeriksaan fisis. Jakarta: FK UI.
2000, p.122-123.
5. Patel Pradi. Lecture notes radiologi. Edisi ke-2. Jakarta: Erlangga. 2007,
p.248-249.
6. Sherwood. Fisiologi manusia dari sel ke sistem, edisi ke-2. Jakrta: EGC. 2001
7. http://hystero.org
8. http://images.google.co.id
9. http://iqbalali.com/2008
10. http://ksuheimi.blogspot.com/2008/Gametogenosis
11. http://plntt.co.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar