Sabtu, 21 Februari 2009

sendiri tanpa harus disakiti

Banyak orang yang bilang, hidup menjomblo itu menyenangkan, bebas bergerak tanpa harus merasa diri terikat atau dikendalikan oleh pacar atau keadaan yang melingkupi hubungan dua anak manusia yang sedang pacaran.

Pada periode masa waktu tertentu, itu memang benar. Lingkup kebebasan seorang jomblo tidak dibatasi oleh adanya suatu kondisi dimana dirinya harus mengingat ada seseorang yang mengharapkan dirinya tidak dilupakan. Namun itu sifatnya sementara saja karena pada waktu-waktu tertentu, kebebasan itu justru membuat diri seorang jomblo merasa "kesepian" karena tiada pribadi yang bisa diajak berbagi.

Kebebasan juga tidak dapat dirasakan secara utuh pada saat orang tua mulai angkat bicara. Lingkup pergaulan juga bisa membuat orang yang memilih hidup menjomblo harus melihat kenyataan bahwa teman-temannya banyak yang melakukan hal berbeda dari apa yang dia pilih. Ketika teman-temannya memilih untuk menjalin kebersamaan dalam bentuk hubungan pacaran, hidup serasa ditinggalkan teman...

Sesungguhnya ada satu benang merah yang jelas terlihat kalau seseorang yang lebih memilih untuk hidup menjomblo dibandingkan memiliki pacar, atau bahkan menikah. Benang merah itu adalah "RASA TAKUT."

Takut dikecewakan, takut disakiti atau menyakiti, takut gak bisa mencintai dengan tulus, dan ketakutan yang sering menjadi kendala saat seseorang terikat hubungan pacaran, yaitu takut mengeluarkan uang. Mungkin, masih ada lagi bentuk-bentuk ketakutan lainnya yang membuat seseorang lebih memilih untuk menikmati hidup dalam kesendirian.

Dari sejumlah rasa takut itu, mungkin yang paling aneh dan kurang bisa diterima akal adalah adanya rasa takut gak bisa mencintai kekasih hatinya dengan tulus. Hah?

Ketulusan hati memang merupakan hal yang perlu dihadirkan dalam menjalankan hubungan dengan pacar. Tanpa ketulusan, ego pribadi akan mendominasi. Itu adalah musuh besar dari dahsyatnya sebuah hubungan cinta kasih, karena ego merupakan salah satu krikil tajam yang bisa membuat hubungan pacaran menjadi retak.

Cinta itu harus dari dalam hati dan gak boleh merasa terbebani. Cinta itu harus apa adanya, sebaiknya gak merasa terpaksa atau memaksakan diri, karena ketulusan cinta, akan membuat segala sesuatunya bisa diterima tanpa harus merasa ada beban.

Salah satu sumber ketakutan diatas adalah karena seseorang yang memilih untuk hidup menjomblo pernah disakiti. Perasaan yang pernah disakiti, membuat seseorang tidak siap untuk membuka jalinan baru dengan yang lainnya.

Keadaan dimana seseorang pernah merasa disakiti, memang dapat menghadirkan polemik bagi orang tersebut untuk membuka hubungan pacaran dengan yang lainnya, karena memang tidak seorang pun di dunia ini yang bisa menerima dirinya disakiti. Tapi, pernah disakiti, bukanlah sebuah alasan untuk seseorang menutup pintu hatinya "selamanya" dalam membuka jalinan lembar baru dengan yang lainnya.

Yaaa, kondisi pernah disakiti itu seharusnya tidak membuat seseorang malah menjauhi terbentuknya hubungan baru dengan yang lainnya. Alasannya, kepribadian dari seseorang itu belum tentu sama dengan kepribadian mantan kekasih hatinya itu. Setidaknya, introspeksi diri diperlukan agar apa yang terjadi sebelumnya, tidak terulang kembali.

Masalahnya, jarang orang yang mau mengintrospeksi diri dan cenderung menilai kesalahan yang terjadi bukanlah berasal dari dirinya. Walaupun kesalahan itu bukan terjadi karena kesalahan dari dirinya, itupun sebaiknya tidak menjadi alasan pembenaran untuk tidak membuka lagi hati bagi terjalinnya hubungan kekasih hati yang lain.

Ini bukan bermaksud mengkompori. Tapi ketahuilah, bahwa apabila keadaan itu memang terjadi, maka itu sama artinya seseorang itu tidak mau belajar menerima suatu, dan berusaha mendapatkan nilai-nilai baik dari keadaan yang dialaminya. Sebab yang benar, adalah sebuah kesalahan itu harus diperbaiki, bukan lari darinya dan tidak mencoba mengeksploitasi kaidah-kaidah kehidupan yang benar serta seharusnya.

Duri bunga mawar yang sempat tertancap, bukan berarti tidak bisa kita ambil lalu dibuang jauh-jauh... sedangkan kita dapat tetap merasakan keharuman dari mawar itu sendiri. Artinya, kesalahan memang sudah terjadi, tapi bukan berarti itu tidak bisa diperbaiki atau diulangi lagi kan...???

Kesendirian sempat juga menaungi diri aku. Pada bulan April 2006, aku kembali sendiri. Keluarnya keputusan bersama untuk berpisah disebabkan banyak hal-hal prinsipil yang tidak dapat dipersatukan lagi. Ada diantaranya karena ego, tapi banyak diantaranya karena kondisi dan keadaan yang ada, tidak memungkinkan lagi hubungan itu dilanjutkan.

Aku bersyukur keputusan itu aku ambil sebab kala itu, aku hampir saja melakukan sebuah kesalahan fatal, yaitu hampir saja menjadi bagian dari "domba yang hilang"... You know what i mean yaaa... Syukurlah, itu tidak terjadi.

Tuhan rupanya sangat baik sama aku. Tidak dibiarkanNya aku tersesat dan melepaskan iman kepercayaan aku. Sebuah kesalahan fatal dapat terhindarkan.

Putus hubungan adalah sebuah kondisi yang sangat menyakitkan. Tapi entah kenapa, saat itu, aku justru merasa "beban" dipundakku diangkat dan rasa sakit itu tidak lama aku rasakan. Perpisahan itu pun berakhir dengan damai.

Kesunyian kembali tercipta selama kekosongan itu ada. Pencarian pun aku mulai lagi karena memang aku bukanlah tipikal orang yang senang berada dalam kesendirian. Sungguh, itu bukanlah sebuah pencarian yang mudah untuk dilakukan. Walau banyak yang menarik, tapi sisi ruang hatiku tak juga terbuka. Aku... masih... harus... mencari... sebuah... kecocokkan...

Prinsipku, iman tanpa perbuatan adalah mati. Maksudnya, kalau aku gak usaha, mana mungkin aku bisa dapat pacar...

Aku tidak pasang kritia khusus. Bagiku, apabila pembicaraan bisa nyambung, tidak berkata kasar, dan segala sesuatunya dilalui dengan pengertian, aku pikir... gak ada salahnya untuk melakukan pendekatan hingga penembakan.

Ya.. mereka, tak cuma 1 atau 2 saja. Mereka melebihi angka 5... Bukan maksud untuk memilih... Bukan maksud juga untuk menjadi petualang... Tapi ini adalah sebuah kenyataan dalam pencarian... Mencari yang terbaik dari yang baik.

Mereka baik... Mereka ramah... Mereka cukup mempesona... dan mereka, batak juga, like me lahhhh...hehehehe... Tapi ada satu sisi dari pola berpikir dan pola bersikap mereka yang masih belum bisa aku mengerti, dan aku tidak juga menangkap apa makna yang sesungguhnya dari perasaan mereka kepadaku...

Well, aku memang menginginkan bintang, tapi bukan berarti aku harus mencapai bintang yang berkilau bila aku yang mencintai mereka... Sebab yang aku inginkan, mereka pun mencintai aku, apa adanya...

Itu... yang... aku... tidak... dapatkan... dari mereka.

Aku tahu mereka tulus. Aku tahu, ada keinginan yang sama dengan apa yang ada di dalam hatiku. Tapi, itu bukan berarti, "rasa" itu baru didapatkan dengan segala mimpi yang hanya aku bisa rasakan sebagai mimpi semata...

Yup... aku tak hanya ingin bermimpi untuk dicintai seseorang perempuan yang aku sayangi. Karena sisi ruang dalam hati ku pun menginginkan ada sisi cinta dari mereka yang aku sayangi.

Aku memang menginginkan hubungan itu terjadi. Aku memang tak ingin hidup sendiri, meskipun orang tua ku belum memberikan ceramah akan hal itu. Tapi... aku memang tak ingin terlelap hidup dalam kesendirian.

Disini aku baru tersadar dan mengambil pelajaran penting, bahwa diluar sana, banyak juga perempuan-perempuan yang menginginkan diri mereka dicintai, sehingga mereka bisa pula merasakan cinta itu. Bukan sesaat, namun dalam keabadian.

Ketika keadaan terjadi, cinta adalah pilihan, tak lagi memilih. Semua pikiran kiranya bisa menghalangi tumbuh dan hadirnya cinta dalam hati, harus dibuang jauh-jauh karena cinta memang harus diekspresikan agar orang lain juga bisa mengapresiasikan cinta kepada kita.

Sekarang, sisi ruang itu telah terbuka... Sudah lebih dari setahun lamanya, aku telah menemukan apa yang aku cari. Sekarang, seorang kekasih hati, yang mau secara terbuka menyatakan rasa cinta dan sayangnya kepadaku tanpa terlebih dahulu aku mencintainya, ada di hati ku...

Oleh karena pilihan itu, aku harus meninggalkan upaya pendekatan kepada ke-5 orang perempuan batak yang sempat dekat sama aku karena aku ingin menjalani kebersamaan itu hingga gerbang pernikahan aku gapai. Kepada mereka aku ingin mengatakan :
aku mengharapkan segenap ketulusan dan kebaikkan kalian untuk memaafkan aku, karena aku telah bertindak untuk membuat sebuah pilihan dan hal itu telah membuat kalian telah terjebak dengan perasaan kalian yang tak bisa aku lanjuti.

Aku berharap, kalian pun mendapatkan yang terbaik untuk menjadi pendamping hidup kalian. Karena kebaikkan kalian semua, akan mendatangkan cinta, dari orang yang sayang sama kalian...

Sedangkan dari aku sendiri, khususnya kepada mereka yang masih menjomblo :
Bukalah pintu hati dan pikiran kalian agar kalian tahu, bahwa dicintai dan mencintai seseorang itu, benar-benar menyenangkan...

Jangan pernah mengatakan tidak, untuk CINTA... Meskipun semua telah berlalu, CINTA 'kan tetap ada selama-lamanya...


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar